momen majik terjadi pada saya waktu saya eisketing. itu adalah waktu saya hampir jatoh di percobaan pertama saya maen esketing. dan itu semua gara-gara tiba-tiba saya dengar lagu ‘someone like you’ nya adele. ajleb. ajleb. ajleb. dan demi someone like you gue pun jatoh. gedebug. dan susah banget bangunnya. waktu gue akhirnya bisa bangun, i tilt to the sky, nyengir, and said to Thou, “God, you are damn crazy!”
the insight: no matter how hard it is to move on, tetep move on!
wkwkwkwk
pelajaran #1 ; no matter how hard,slippery,and frightening it is,you got to have your move,unless you will end up staring and freezing in the sidering.
pelajaran #2 ; Concentrate on your movement. do not distract with joseph gordon levitt look a like guy, or you will be fall unprettyly. in front of him. such an embarassing pose!
Pelajaran #3 ; if you get fall. get up. make your move again. help yourself. it is just ice. so do the heartbroke.
Pelajaran 4 ; no matter how pretty others movement, make your own. try harder. conquer yourself.
dibantuin sama mas2tukang esketing pas lagik jatoh itu semacam sesuatu banget. antara ge er dibantuin ato gue dikiranya masih usia anak.
liat orabg jago esketing banget sampe bisa atraksi sambil telponan itu semacam sesuatu juga. semacam pingin nyambit masnya pake sepatu esketing. imagine he do ice skeating without a head. ouch so gore!
pengalaman esketing pertama gue berakhir dengan keinginan yang amat kuat untuk luluran pake counterpain.
kancrut adalah karena alasan yang sepele dan diadakan-adakan (salahnya sendiri temenan sama pacarnya mantan, adik-adiknya mantan, dan kakaknya mantan DI FACEBOOK) tiba-tiba rolling in the deep dan terngiang-ngiang someone like you-nya adele.
kancrut adalah meski sudah berkomitmen untuk move on tetapi tetap ingin membalas dendam.
kancrut adalah ketika melihat mantan sangat bahgia dengan pacar ba(r)unya.
kancrut adalah membakar diri dalam api kemarahan kecemburuan (atau kesetiaan yang bodoh?).
may your both burn in hell.
*in my way to acknowledge my anger and deep dark side me*
madbrain.
yeah (via padatmerayap)
Sebuah pagi yang biasa. Tidak mendung, tidak juga hujan. Benar-benar biasa. Ketika dering telepon itu sampai. Sebuah berita kematian di ujung telepon. Pagi yang terlalu biasa untuk sebuah kematian.
…
Dalam 15 tahun hidupnya, senyap mungkin nama kawan akrabnya. Ia tak dapat kemana-mana. Dalam 15 tahun hidupnya, mungkin keluarganya tidak pernah dapat memahami maksud hatinya. Sampai tiba suatu ketika, saat napasnya tersengal, pencernaannya tak mampu bekerja, pun mengeluarkan sisa cernanya. “Ahh, jangan sekarang, jangan sekarang, sebentar lagi ayah-ibu pulang, aku tidak boleh sakit sekarang, aku mau bertemu ayah ibuku, sudah sedemikian rinduku pada mereka”.
…
“Anakku, permata hatiku, satu-satunya, sebentar lagi, ibu akan pulang”.
5 tahun sudah aku merantau di negeri orang Malaysia, menjadi pekerja, menghidupi keluarga di kampung, membangun rumah untuk sanak famili, membiayai anak yang sakit. Anakku satu-satunya itu, pasti sudah jadi pemuda yang tampan sekarang. Ah, kalau saja sakit kejangnya saat ia berusia 8 bulan dapat disembuhkan. Kalau saja, kami punya uang, kalau saja kami tahu apa yang sejarusnya dilakukan, ia seharusnya sudah menjadi pemuda gagah yang digandrungi remaja putri di kampung.
..
Hari ini aku mendapat kabar, putra semata wayangku itu sakit dan masuk rumah sakit. Ah, bagaimana ini, aku dan istriku belum bisa kembali, belum ada pekerja yang akan menggantikan kami, sementara majikan kami tidak mau tahu. Apa boleh buat, terpaksa kepulangan kami tunda.
“Tidak apa-apa, Bu, kan sudah ada aki, nini, dan bibinya yang menjaga disana, kita tenang saja, tinggal sediakan uang pengobatannya saja. Sudah Ibu tenang dulu, tidak perlu menangis begitu…”
Demikian aku berusaha membesarkan hati istriku.
…
Semua suster yang mengontrol menyangka saya ibunya. “Bukan, Sus, saya bibinya…”, demikian selalu saya jawab. Keponakanku itu sudah 2 hari masuk rumah sakit, dia tidak mau makan, minum, bahkan buang air kecil saja harus menggunakan selang, semua serba selang, bernapas dan makannya juga. Sungguh tidak sampai hati saya melihatnya. Rasanya mau menangis saja, apalagi waktu dokter menemukan ada cairan dalam parunya, begitu disedot, masya allah! seperti kopi hitam, sudah 2 gelas yang berhasil disedot, pantas dia seperti susah sekali kalau mau bernapas. “Ah, Apif coba bibi tau apa maksud eranganmu itu, bagian mana yang sakit….”
…
Sudah berkali-kali dering telepon itu tidak berani kuangkat. Dari anakku yang masih di malaysia, pasti mau menanyakan keadan cucuku. Bagaimana bisa kami menjelaskan, semua orang disini sama bingungnya, bahkan dokternya juga. Ada apa dengan cucuku? Tidak biasanya dia demam sampai seperti ini. Dia seperti tidak sanggup lagi berbuat apa-apa, dari bernapas sampai buang air.
Ahhh, teleponku berbunyi lagi. Buat apa bibik menelepon pagi buta begini?
“Assalamuaalaikum, ada apa, bi?”
“Innalillahi wa inna ilaihi Roji’un”.
…
“Ada apa ya, A’, kok semua orang di rumah tidak bisa dihubungi?”
“Ah, mungkin semua sedang sibuk mengurus Apif di rumah sakit. Kamu tenang sajalah”
“Ah. Akhirnya diangkat juga. Halo, saur saha? Bibi mana, bibi? Apif, Apif gimana?”
Istriku itu memang kadang sering terlalu panik, pikirku sambil membetulkan paket oleh-oleh buat Apif. Dia pasti akan senang.
…
Siang itu hujan deras. Barusan, tangis menderas membanjiri rumah itu dengan ratapan.
“Saya belum cerita apa-apa sama kakak saya, Neng, saya tidak bisa membayangkan apa jadinya nanti kalau kakak saya tahu. Sementara biarlah dulu.”
…
Demikianlah, masa kini seringkali memenggal masa depan, lalu tragedi terjadi. Kita memilih diam. Pua-pura bijak. Menerima bahwa Tuhan mengatur setiap rencana lewat kenyataan yang pahit dan kebetulan yang tragis.
#digubah seperlunya dari sebuah kejadian sesunguhnya pada sebuah kecamatan dalam sebuah kabupaten yang belum terjamah mall dan distro.